Selasa, 28 Mei 2013

Puji-pujian Berkaitan dengan Perenungan


  Ny. Roh 154:2 “Jika Jiwaku Berdoa”
                 Apa juga yang Kau timbang baik untuk hidupku,
                 B’rilah aku pun setuju dengan maksud hikmat-Mu.
                 Dan mengerti dan percaya, biar hatiku lemah
                                   Jangan kehendakku Bapa, kehendak-Mu jadilah.”

 
-                              “ Selalu Ada jalan”
Ketika jalan yang ku lalui berputar di padang gurun
Engkaulah yang memelihara hidupku sempurna
Ketika jalan yang ku tempuh berujung di sungai dalam
Engkaulah yang mengeringkannya untuk ku sebrangi
Reef : Selalu ada jalan saat seakan tiada jalan
           S’bab Tuhan ada di depanku, membuka jalan bagiku
           Selalu ada jalan dimana ada kemauan
                                         Biarlah ku hidup selalu di jalan yang Kau tunjukkan kepadaku


  Pujian “Bagaikan Bejana siap dibentuk”.
Bagaikan bejana siap dibentuk, demikian hidupku di tanganmu
Dengan urapan kuasa Roh-Mu, ku dibaharui selalu
Jadikan ku alat dalam rumah-Mu, inilah hidupku di tangan-Mu
Bentuklah  seturut kehendak-Mu , pakailah sesuai rencana-Mu
Reef  : Ku mau seperti-Mu Yesus, disempurnakan selalu
                         Dalam segenap jalanku memuliakan nama-Mu.
-        “Hatiku Percaya”
Saat ku tak melihat jalan-Mu
Saat ku tak mengerti rencana-Mu
Namun tetap ku pegang janji-Mu
Pengharapanku hanya pada-Mu
         
Reef :   Hatiku percaya, hatiku percaya
            Hatiku percaya, selalu ku percaya

Memahami Proses Tuhan

Ø   Pembacaan Alkitab : Yeremia 18:1-6 (Renungan dan Refleksi singkat dalam penyampaian)
Ayat 6 “ Masakan Aku tidak dapat bertindak kepada kamu seperti tukang Periuk ini, hai Kaum Israel!, demikianlah Firman Tuhan. Sungguh, seperti tanah liat di tangan tukang Periuk, demikianlah kamu di tangan-Ku, hai kaum Israel!.
Ø  Pelayan membuang sebuah piring dari Mimbar, yang kemudian akan dikumpul pecahannya oleh seorang jemaat yang berjalan menuju tempat piring itu pecah, sambil berkata:
 Tuhan seperti piring yang telah pecah ini, inilah hidup saya. Terlalu banyak pergumulan yang harus saya hadapi dan menjalaninya. Seperti piring yang telah pecah ini, demikianlah hidup saya yang telah pecah berkeping-keping. Saya berusaha untuk membentuknya kembali, demikian juga hidup saya. Saya berjuang Tuhan, saya berusaha Tuhan, saya melakukan segala hal supaya bagaimana hidup saya kembali baik seperti awalnya. Sampai pada saat dimana, saya tidak mampu Tuhan...... saya sudah tidak berdaya lagi dan tidak tahu mau  melakukan apa lagi? Saya mohon ya Tuhan tolonglah saya, jawablah permohonan saya dalam ketidakmampuan saya ini? Tuhan dimanakah Engkau? Apakah Engkau tidak melihat keadaan saya? Apakah Engkau sudah tidak mempedulikan saya lagi? Bagaimanakah dengan hidup saya ini Tuhan...?

Ø   Khotbah singkat :
Persoalan dan pergumulan hidup adalah suatu kenyataan yang selalu dihadapi oleh Manusia, bagaimana bentuknya dan kapan waktunya berbeda-beda pada kita masing- masing. Sebagai manusia biasa seringkali ketika kita ada dalam persoalan dan pergumulan, kita akan mempertanyakan keberadaan Tuhan dalam hidup kita. Apakah Tuhan masih memperdulikan kita lagi, apakah Tuhan masih mengasihi kita lagi, di mana Engkau Tuhan? Masih maukah Engkau memulihkan keadaan kami? Ketika kita ada dalam persoalan dan pergumulan, kita tidak mampu melihat kasih karunia yang Allah telah siapkan   bahkan telah mengerjakannya bagi kita. Jemaat Tuhan situasi inilah yang mau dijelaskan oleh Yeremia 18 ini bagi kita. Bangsa Israel ketika mereka ada dalam pembuangan di Babel, dijajah dan ditindas, mereka mempertanyakan kasih sayang Tuhan dalam hidup mereka? Mengapa Allah memilih mereka sebagai umat pilihan-Nya, dan seakan-akan membiarkan mereka ada dalam keterpurukan hidup mereka, yang seakan-akan pula Allah telah meninggalkan mereka dan tidak memperdulikan mereka lagi. Allah memanggil Yeremia untuk pergi kepada bangsa-Nya dan memberitakan kabar keselamatan, dengan belajar terlebih dahulu dari pekerjaan tukang periuk. Apabila bejana yang sedang dibuatnya dari tanah liat itu di tangannya kurang baik dalam pemandangannya. Maka tukang periuk itu akan membuat yang lain menurut yang baik pada pemandangannya. Masakan Aku tidak dapat bertindak kepadamu seperti tukang periuk itu, hai kaum Israel. Allah ada dan mampu untuk memulihkan keadaanmu, tetaplah percaya dan berharap serta bertobatlah.
Suatu ketika ada seorang anak yang bermain dan tidur-tiduran di lantai, sementara ibunya sedang menyulam. Anak itu kemudian melihat apa yang sementara di buat oleh ibunya, dan ia bertanya : ibu apakah yang sementara engkau lakukan? Ibunya menjawab aku sementara menyulam anakku. Anaknya kemudian menampik dengan berkata; ibu katakan bahwa ibu sementara menyulam, tapi yang aku lihat dari bawah ini adalah benang yang berlarian tanpa tujuan yang jelas, yang saya  lihat dari bawah ini adalah benang-benang yang lari tidak beraturan bahkan kelihatan talingkar. Anak ini kemudian bertanya lagi : ibu apa yang sebenarnya engkau lakukan? Jawab ibunya, anakku aku sementara menyulam. Tapi ibu bagaimana dengan yang saya lihat dari bawah ini? kata anaknya. Aku sementara menyulam anakku. Setelah ibunya selesai menyulam, ibunya kemudian mengangkat anaknya yang sementara bermain dan terbaring di lantai itu, kemudian menaruh anaknya itu di atas pangkuannya dan menyuruh anaknya itu melihat hasil sulamannya. Anaknya kemudian berkata wow ibu betapa indah sulamanmu? Amin